Cyberbullying: Ancaman Kebebasan Berekspresi di Media Sosial

Keberadaan media sosial saat ini sedang mendapatkan perhatian yang cukup besar oleh masyarakat Indonesia, perhatian tersebut seiring dengan semakin tingginya tingkat kepopuleran media sosial diikuti pula dengan adanya berbagai permasalahan di dalam media tersebut yang melibatkan para penggunannya. Media sosial yang diharapkan dapat menjadi media alternatif sebagai alat informasi dan berkespresi, kini sedang berada pada titik yang mengkhawatirkan, khususnya dalam kebebasan berekspresi di media sosial.

Kehadiran media sosial yang memberikan ruang kebebasan para penggunanya untuk menyampaikan aspirasi maupun informasi yang dimilikinya, saat ini belum diikuti dengan adanya sifat saling menghormati dan menghargai antar sesama pengguna media tersebut, dalam hal kebebasan berekspresi dan berpendapat. Hal ini tercermin dengan maraknya permasalahan atau konflik yang terjadi di media sosial, disebabkan oleh kurang adanya kedewasaan dalam menggunakan media sosial dan penghormatan hak seseorang untuk mengutarakan pendapat serta berekspresi.

Hak berekspresi dan menyatakan pendapat yang telah diatur di dalam undang-undang no.12 tahun 2005 mengenai hak-hak sipil politik, belum secara benar diimplementasikan dengan baik oleh beberapa pengguna media sosial, sebagian dari mereka belum dapat menerima sebuah hal berkaitan dengan pendapat berupa status, komentar dan aktivitas lainnya yang dilakukan seseorang di media sosial yang dianggap tidak sesuai dengan dirinya.

 Keadaan seperti inilah yang mendorong timbulnya permasalahan atau konflik yang marak terjadi di media sosial. Menurut data dari Safenet selama tahun 2008-2014 terdapat 74 kasus yang terjadi di Indonesia, 53% kasus (30% dengan rata-rata 4 kasus perbulannya) terjadi di tahun 2014 terkait dengan status di internet dan Sebanyak 92% kasus yang dilaporkan adalah tindakan pencemaran nama baik, baik di akun facebook, twitter, bahkan di ranah yang dianggap tertutup, seperti line group[1].

Selain kasus-kasus yang disebabkan atas dugaan pencemaran nama baik dan konflik perbedaan pendapat, saat ini para pengguna media sosial sedang dihadapkan dengan ancaman dalam hal kebebasan berekspresi, ancaman tersebut berupa komentar-komentar dan aktivitas lainya yang bersifat intimidasi atau tindakan bullying di ranah media sosial, hal ini dikenal dengan nama cyberbullying. Bullying jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti intimidasi, pelecehan, ancaman yang dilangsungkan baik secara verbal maupun fisik. Cyberbullying diartikan sebagai pelecehan dan penghinaan yang dilakukan pelaku (bully) kepada korban di dunia maya (internet) dengan tujuannya untuk mempermalukan, mengolok-olok, mengancam,mengintimidasi dalam rangka menegaskan kekuasaan dan kontrol atas korban tersebut. Menurut Peter Smith Cyberbullying yaitu perlakuan kasar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, menggunakan bantuan alat elektronik yang dilakukan berulang dan terus menerus pada seorang target yang kesulitan membela diri [2].

Kasus-kasus cyberbullying yang terjadi di Indonesia memang lebih sering dilakukan dan menjadi korban yaitu para pengguna media sosial usia muda, namun semakin populernya media tersebut sehingga meningkatnya pengguna media sosial baik remaja hingga usia tua, tidak ada jaminan yang bisa diharapkan bahwa seseorang tidak akan menjadi korban cyberbullying di media sosial. Bullying di dunia maya juga jauh lebih mudah dibandingkan di dunia nyata dimana pelaku tidak perlu bertemu muka dengan muka untuk menyakiti perasaan korbannya.

Sebagai contoh kasus pada tahun 2014, ketika Dinda seorang perempuan yang menceritakan kejadian dirinya dengan seorang Ibu hamil di kereta mengenai tempat duduk di media sosial miliknya dan kemudian tersebar, secara cepat mendapat tanggapan yang berupa kecaman dari para masyarakat dunia maya yang tidak menyukai  isi status miliknya, banyaknya kecaman yang ditujukan kepada Dinda, sehingga perempuan ini memutuskan untuk menutup akun media sosialnya dikarenakan tidak tahan dengan terus menjadi korban cyberbullying.

Potret lain minimnya penghormatan Hak berekspresi di media sosial adalah ketika kejadian yang menimpa Florence mahasiswa Universitas Gajah Mada yang menulis status di media sosialnya mengenai masyarakat Jogja. Isi status Florence yang dianggap telah menjelekkan nama baik masyarakat Jogja, serentak disambut dengan kecaman dan menjadi bahan bullying para pengguna media sosial, beberapa pengguna media sosial hingga membuat gerakan untuk mengusir Florence dari Jogja. Akibat isi status tersebut, Florence bukan hanya menjadi korban cyberbullying ia juga pada saat itu terancam mendapatkan sanksi pidana dengan alasan pencemaran nama baik.

Australian Federal Police menyebutkan bahwa dampak berkepanjangan yang dirasakan oleh para korban  cyberbullying adalah sering kali depresi, merasa terisolasi, diperlakukan tidak manusiawi, dan tak berdaya ketika diserang,selain itu kekerasan dunia maya ternyata lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan kekerasan secara fisik. Cyberbullying yang berkepanjangan bisa mematikan rasa percaya diri , menjadi murung, khawatir, selalu merasa bersalah atau gagal karena tidak mampu mengatasi sendiri gangguan  yang menimpanya. Bahkan ada pula korban cyberbullying yang berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena tak tahan lagi diganggu[3].

 Kasus cyberbullying yang menimpa Dinda dan Florence merupakan sebagian kecil potret belum adanya penghormatan atas Hak seseorang untuk berekspresi di media sosial, kehadiran media sosial yang diharapkan dapat menjadi obat luka dari kejenuhan akan media mainstream yang syarat kepentingan dan sulitnya mendapatkan ruang untuk menyalurkan pendapat serta berekspresi, nyatanya saat ini memiliki berbagai macam problema yang tumbuh sehingga perlahan menghilangkan esensi dari tujuan adanya media tersebut. Cyberbullying hanyalah satu dari berbagai macam bentuk permasalahan di media sosial yang mengancam kebebasan berekspresi para penggunanya.

Permasalahan-permasalahan di ranah media sosial sebenarnya sudah diatur dalam Undang-undang no.11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, meskipun UU tersebut masih memiliki kelemahan-kelemahan yang dianggap belum secara benar menjamin kebebasan berekspresi di ranah media sosial dan memiliki potensi untuk dipersalahgunakan oleh sebagian individu maupun kelompok, untuk meredam pendapat dan kebebasan berekspresi seseorang di dunia maya.

Terlepas dari masih kontroversialnya peraturan pemerintah dalam hal konflik di media sosial, penghormatan Hak dalam berekspresi dan berpendapat sudah seharusnya disadari dan diimplementasikan dengan benar oleh para pengakses dunia maya. Ditengah euforia masyarakat Indonesia menyambut kehadiran media sosial, haruslah selaras dengan semangat perubahan perilaku dengan menghormati serta menghargai segala bentuk ekspresi dan pendapat seseorang, disatu sisi lain para pengguna media sosial harus berupaya menjadi pengguna yang arif ketika beraktivitas di media sosial, dikarenakan berkomunikasi menggunakan teks memiliki resiko salah faham lebih besar dibandingkan menggunakan panca indera kita. Oleh karena itu persiapkan mental kita agar tidak terjebak dalam emosi, flame war, yang akhirnya jika salah justru malah merugikan pihak lain.

 Sumber

[1] http://id.safenetvoice.org/2014/11/8-poin-catatan-dari-kriminalisasi-netizen-dengan-uu-ite/

[2] https://mycyberbullying.wordpress.com/2014/05/25/pengertian-cyberbullying/

[3] https://astriisept.wordpress.com/2014/05/22/cyberbullying/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s